Hingar bingar malam itu semakin memanas dengan hentakan musik yang membahana dari sejumlah kafe di pinggir jalan. Sementara turis asing tampak berlalu lalang berbaur dengan warga lokal disela hiruk pikuknya kendaraan. Itulah sekilas suasana di Jalan Jaksa, surga backpacker ibu kota.
Terik matahari yang
menyengat dan kepulan asap knalpot dari sejumlah kendaraan yang berlalu
lalang tampak menyelimuti Jalan Jaksa siang itu. Di pinggir jalanan yang
berdebu terlihat seorang penjual buah dengan gerobak tuanya duduk
termangu seolah menanti sentuhan rezeki dari para pembeli. Sementara
tidak jauh dari tempatnya berada, sejumlah turis asing tampak asyik
menikmati sajian makan siang yang sedikit terlambat di sebuah rumah
makan.
Sekilas suasana di Jalan Jaksa siang itu terlihat sangat
tenang cenderung sepi. Namun kondisi itu akan berubah seratus delapan puluh
derajat kala malam menjelang.
Sejumlah bar dengan hentakan musik membahana berbaur dengan
hingar bingar para pengunjung yang didominasi para turis asing. Situasi tersebut mengingatkan akan suasana di Pulau Dewata
yang tampak ramai dengan kehadiran turis-turis asingnya. Tidak heran bila
kemudian Jalan Jaksa disebut juga sebagai Legian-nya Jakarta.
Untuk para pecinta backpacker, nama Jalan Jaksa sudah tidak
asing lagi di telinga. Jalan yang berada di kawasan Menteng, Jakarta Pusat ini
memang terkenal sebagai lokasi wisata murah bagi para pelancong dengan budget
yang pas-pasan.
Sejumlah tempat penginapan ramah kantong berjejer di
sepanjang Jalan Jaksa siap menyambut kedatangan para wisatawan baik dari dalam
negeri maupun manca negara.
Beragam penginapan dari mulai setingkat hostel dengan harga
Rp 80.000 hingga Rp 200.000 sampai dengan hotel berbintang 3 dengan kisaran
budget Rp 300.000 hingga Rp 600.000 pun dapat dengan mudah ditemui di kawasan
tersebut.
Bagi yang ingin mendapatkan hotel dengan fasilitas yang
lebih baik dapat mencari di sekitar Jalan Wahid Hasyim yang letaknya hanya
beberapa meter dari Jalan Jaksa. Dari mulai hotel bintang 3 hingga hotel
berbintang 5 bisa ditemukan di sepanjang jalan yang nyaris tak pernah sepi itu.
Selain tempat penginapan, tempat makan murah nan lezat juga
dapat ditemukan di sekitar Jalan Jaksa. Untuk para pecinta kuliner lokal
seperti pecel lele, pecel ayam, soto dan aneka hidangan lezat lainnya, dapat
menemukannya di sepanjang Jalan Jaksa. Namun untuk pecel lele dengan rasa
terbaik dapat dicoba di sebuah warung tenda yang lokasinya berada tepat di
seberang soto ceker.
Bagi yang menyukai masakan Asia, makanan ala Malaysia juga
dapat dijumpai di sana. Harga yang terjangkau dan rasa yang menggugah selera
membuat tempat tersebut nyaris tak pernah sepi pengunjung.
Untuk yang ingin membeli kebutuhan lainnya, sejumlah mini
market yang beroperasi 24 jam non stop dapat dengan mudah di jumpai di jalan
yang memiliki panjang sekitar 400 meter itu.
Selain sebagai tempat wisata berbudget, Jalan Jaksa juga
menjadi lokasi tujuan wisata budaya di wilayah Jakarta melalui ajang Festival
Jalan Jaksa.
Festival Jalan Jaksa diadakan untuk pertama kalinya di
ibukota pada tanggal 5 - 7 Agustus 1994. Festival yang diadakan di sepanjang
Jalan Jaksa itu bertujuan untuk mengangkat dan melestarikan budaya penduduk
asli Jakarta, yaitu masyarakat Betawi.
Berbagai ragam kesenian asli Betawi seperti ondel ondel
turut memeriahkan Festival Jalan Jaksa. Selain itu penampilan sejumlah band dan
bazar yang menjual berbagai pernak pernik khas Betawi juga turut menjadi bagian
dari festival tahunan tersebut.
Lokasi Jalan Jaksa juga sangat strategis. Tempat ini hanya
berada sekitar 1 km dari kawasan wisata Monumen Nasional (Monas) dan Masjid
Istiqlal sehingga dapat dijangkau cukup dengan berjalan kaki.
Selain Monas, lokasi tujuan wisata lainnya yang dapat
dijangkau dengan mudah dari kawasan 'Kampung Backpacker' ini adalah Taman dan
Situ Menteng, kawasan perdagangan Tanah Abang, dan kawasan Kota Tua.

Suasana Jl. Jaksa di malam hari
Untuk menjangkau Jalan Jaksa sangatlah mudah. Pasalnya
jalan tersebut sangat dekat dengan Stasiun Gondangdia dan Stasiun Gambir serta
berada tidak jauh dari kawasan Sudirman dan Thamrin.
Jadi tunggu apa lagi? Berwisata ke Kota Jakarta tidak
selalu menguras kantong. Jika bugdet pas-pasan, cobalah berkunjung ke Jalan
Jaksa. (Eti)
Hingar bingar malam itu semakin memanas dengan hentakan musik yang membahana dari sejumlah kafe di pinggir jalan. Sementara turis asing tampak berlalu lalang berbaur dengan warga lokal disela hiruk pikuknya kendaraan. Itulah sekilas suasana di Jalan Jaksa, surga backpacker ibu kota.
Terik matahari yang menyengat dan kepulan asap knalpot dari sejumlah kendaraan yang berlalu lalang tampak menyelimuti Jalan Jaksa siang itu. Di pinggir jalanan yang berdebu terlihat seorang penjual buah dengan gerobak tuanya duduk termangu seolah menanti sentuhan rezeki dari para pembeli. Sementara tidak jauh dari tempatnya berada, sejumlah turis asing tampak asyik menikmati sajian makan siang yang sedikit terlambat di sebuah rumah makan.
Sekilas suasana di Jalan Jaksa siang itu terlihat sangat tenang cenderung sepi. Namun kondisi itu akan berubah seratus delapan puluh derajat kala malam menjelang.

Suasana Jl. Jaksa di malam hari

Untuk menjangkau Jalan Jaksa sangatlah mudah. Pasalnya jalan tersebut sangat dekat dengan Stasiun Gondangdia dan Stasiun Gambir serta berada tidak jauh dari kawasan Sudirman dan Thamrin.
Jadi tunggu apa lagi? Berwisata ke Kota Jakarta tidak selalu menguras kantong. Jika bugdet pas-pasan, cobalah berkunjung ke Jalan Jaksa. (Eti)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar