Tampilkan postingan dengan label wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Mei 2015

Menguak Eksotika Pulau Lombok



Pesona keindahan alam Pulau Lombok yang eksotis dan keunikan budaya masyarakat Suku Sasak membuat pulau tersebut menjadi salah satu destinasi wisata favorit para pecinta travelling.


Nama Pulau Lombok yang terletak di Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) akhir-akhir ini semakin popular di kalangan pecinta wisata. Keindahan alamnya yang mempesona dan keunikan budaya masyarakat Suku Sasak menjadi daya tarik utama yang memikat para wisatawan baik dari dalam maupun manca negara. Kabar keindahan alam Pulau Lombok itulah yang akhirnya membuat saya memilih untuk berpetualang ke pulau yang terkenal dengan sebutan Pulau Seribu Masjid itu.

Senggigi Beach

Pesawat Lion Air yang menerbangkan saya bersama dengan seorang teman dari Italia akhirnya mendarat sekitar pukul 3 sore hari waktu Lombok. Setelah mencocokan jam dengan waktu Lombok, mengingat Lombok lebih cepat satu jam dari Jakarta, kami pun berangkat ke wilayah Senggigi tempat hotel kami berada dengan menggunakan sebuah taksi.

Senggigi merupakan salah satu destinasi wisata yang populer di Lombok. Lokasinya yang strategis membuat sejumlah wisatawan memilih untuk menginap di wilayah tersebut. Dari Senggigi, kita bisa pergi ke Gili Trawangan, Gili Air dan Gili Meno dengan jarak yang lebih dekat. Pun demikian jika kita ingin berwisata ke Lombok bagian selatan untuk menikmati eksotika pantai-pantainya seperti Pantai Kuta dan Pantai Tanjung Aan.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 1 jam, kami pun tiba di Hotel Senggigi Beach Resort. Sempat terjadi kejadian yang kurang mengenakan sesaat setelah kami melakukan check in di hotel. Pasalnya kami baru menyadari kalau barang-barang kami masih berada di dalam bagasi taksi, sementara taksi sudah melaju pergi. 

Dalam kondisi serba panik, staf hotel berinisiatif untuk menelepon perusahaan taksi yang membawa kami ke hotel. Meski sempat ditentang oleh rekan seperjalanan saya dari Italia, namun akhirnya ia setuju untuk memberikan uang pengganti bensin sekitar 30 ribu Rupiah kepada sopir taksi yang kembali ke hotel untuk mengantarkan barang-barang kami.

Setelah menyegarkan badan dengan siraman air dari shower yang dingin, saya bersama teman memutuskan untuk berjalan-jalan menikmati keindahan pantai. Hotel Senggigi Beach Resort terletak tepat di tepi Pantai Senggigi. Kebetulan cottage yang saya tempati juga berada tepat di tepi pantai sehingga hanya diperlukan beberapa meter saja untuk melangkahkan kaki di hamparan pasir pantai.

Pantai Senggigi memiliki pantai yang landai dengan butiran pasir putih nan lembut. Ombak yang sore itu terlihat sedikit ganas akibat kerasnya hembusan angin, dimanfaatkan oleh sejumlah turis asing pecinta surfing untuk berselancar menikmati serunya ayunan gelombang. Sementara sebagian turis lainnya memilih untuk duduk bersantai di atas pasir putih sembari menunggu datangnya sunshet di ufuk barat cakrawala.

Kami pun tidak melewatkan kesempatan itu untuk turut serta menikmati keindahan Pantai Senggigi. Beberapa saat kemudian semburat kemerahan di ujung cakrawala yang dinanti pun muncul. Pantulan sunshet yang membuncah menerangi permukaan air laut membuatnya terlihat seperti permadani alam yang menghampar. Sungguh sebuah panorama yang menganggumkan.

Sunshet di Pantai Senggigi, Lombok


Malam harinya kami memulai petualangan wisata kuliner dengan menikmati sejumlah makanan khas Lombok seperti ayam taliwang dan plecing kangkung. Rasa yang pedas dan gurih membuat saya ketagihan untuk menikmati sajian Ayam Taliwang di lain kesempatan. Ternyata penyuka ayam taliwang dan plecing kangkung bukan hanya orang Indonesia loh. Sejumlah turis asing juga tampak lahap menikmati sajian khas Pulau Lombok tersebut.

Namun bagi yang ingin menikmati sajian menu lainnya, jangan khawatir. Di sepanjang Jalan Senggigi terdapat jejeran kafe, bar dan restauran dengan beragam varian menu yang menggoda, baik menu nusantara maupun menu ala Eropa. Mayoritas kafe dan restauran di Senggigi hanya beroperasi hingga pukul 12 malam saha. Lewat dari jam tersebut, kafe-kafe dan restauran akan tutup sehingga suasana di sekitar Jalan Senggigi berubah sepi. Meski demikian sejumlah bar masih akan terus beroperasi sampai pagi menjelang.

Panorama Pantai Senggigi dari Hotel
Desa Wisata Sukarara

Keesokan harinya kami memulai menjelajahi Pulau Lombok yang terkenal dengan keindahan pantai dan keunikan budayanya. Destinasi pertama yang kami pilih untuk dikunjungi di hari pertama ini adalah wilayah Pantai di kawasan selatan Pulau Lombok, yaitu Pantai Kuta.

Untuk pergi ke Pantai Kuta, kami memutuskan untuk menyewa sebuah mobil dengan tarif Rp 400.000 hingga Rp 600.000 dengan durasi 8 - 10 jam lamanya. Harga tersebut sudah termasuk dengan BBM dan jasa driver yang juga berfungsi sebagai guide atau pemandu bagi kami. Petualangan pun dimulai sekitar pukul 8 waktu Jakarta atau 9 pagi waktu Lombok.

Karena Senggigi berada di wilayah utara Lombok, maka kami pun harus pergi dengan cara membelah Pulau Lombok untuk dapat mencapai kawasan Lombok Selatan. Sejumlah pedesaan dengan arsitektur rumah yang unik membuat rekan saya terlihat sangat takjub.

Melihat antusiasme bule di samping saya, akhirnya sang guide pun menawarkan untuk mengunjungi sebuah desa wisata yang terkenal dengan kerajinan tenun tradisional atau songket-nya, yaitu Desa Sukarara.

Baju adat Suku Sasak, Lombok

Desa Sukarara yang terletak di Kecamatan Jonggat Kabupaten Lombok Tengah, NTB, merupakan sebuah desa kecil yang yang menjadi salah satu pusat kerajinan tenun tradisional. Sebagian besar perempuan yang ada di Desa Sukarara bekerja sebagai penenun. Saat berjalan-jalan kami menjumpai hampir di setiap teras rumah tampak sejumlah perempuan Suku Sasak sedang sibuk menenun.

Karena penasaran, saya pun tergoda untuk mencoba belajar cara membuat kain tenun ala Suku Sasak. Ternyata prosesnya sangat rumit sehingga hanya dalam waktu beberapa menit saja, saya pun langsung menyerah.

Karena rumitnya motif dan teknik menenun Suku Sasak membuat kain tenun yang dihasilkan memiliki kualitas yang sangat tinggi. Tidak heran bila harganya pun lumayan terbilang mahal, yaitu berkisar dari ratusan ribu, hingga jutaan Rupiah.

Belajar menenun ala Suku Sasak, Lombok
Pantai Kuta Lombok

Setelah puas menikmati keunikan Desa Sukarara, kami pun melanjutkan perjalanan menuju destinasi tujuan utama kami, yaitu Pantai Kuta Lombok dan Tanjung Aan. 

Pantai Kuta Lombok terletak di Desa Kuta, Lombok Tengah. Lokasinya berada sekitar 56 KM dari ibukota NTB, Mataram. Keunikan pantai ini adalah pasir putihnya yang tampak laksana biji merica. Karena keunikannya inilah Pantai Kuta Lombok disebut juga sebagai Pantai Merica.

Selain keindahan alam yang mempesona, di Pantai Kuta juga kerap diadakan upacara tradisional, yaitu Upacara Bau Nyale. Dalam upacara ini warga setempat akan mencari cacing Nyale di laut. Menurut legenda, dahulu kala ada seorang putri bernama Putri Mandalika. Parasnya yang sangat cantik, membuat banyak pangeran dan pemuda yang ingin menikahnya. Namun karena tidak dapat mengambil keputusan, ia pun memilih untuk terjun ke dalam laut. Sebelum terjun, ia berjanji akan datang kembali sekali dalam setahun. Rambut sang putri yang panjang kemudian berubah menjadi cacing Nyale.

Pantai Kuta Lombok
Sayangnya kenyamanan para turis termasuk kami untuk menikmati keindahan Pantai Kuta Lombok sedikit terganggu oleh ulah sejumlah oknum pedagang souvenir yang terkesan memaksa saat menjual barang-barang dagangan mereka. Jika saja pihak pemda setempat atau pihak pengelola wisata Pantai Kuta Lombok mampu mengkoordinir para pedagang souvenir tersebut, maka sudah barang tentu para turis akan merasa lebih nyaman saat menikmati suasana alam pantai yang menganggumkan tersebut.

Pantai Tanjung Aan

Puas menikmati keindahan Kuta Lombok, perjalanan pun dilanjutkan untuk mengunjungi Pantai Tanjung Aan yang lokasinya tidak terlalu jauh dari Kuta Lombok.

Saat menginjakan kaki pertama kali di Tanjung Aan, pandangan saya langsung terhipnotis oleh panorama pantai yang mengagumkan. Hanya satu kata yang tersirat di kepala saya saat itu: Luar biasa!

Pantai Tanjung Aan memiliki panorama yang spektakuler bukan saja dari keindahan pantainya, tapi juga perbukitan yang menghiasi di sekitarnya. Deburan ombak, pasir yang memukau, gugusan perbukitan nan hijau dan birunya laut laksana kristal bagai lukisan alam dengan nilai estetika yang luar biasa. Tidak berlebihan rasanya jika Pantai Tanjung Aan dikenal pula sebagai Selandia Baru-nya Indonesia. Untuk Anda pecinta wisata pantai, Tanjung Aan sangat layak berada di daftar teratas kunjungan Anda.

Pose di Pantai Tanjung Aan, Lombok


Gili Trawangan

Terpukau dengan pesona keindahan Pantai Kuta Lombok yang eksotis tidak membuat petualangan kami untuk menjelajahi Pulau Lombok terhenti. Destinasi di hari selanjutnya untuk dikunjungi adalah Gili Trawangan.

Pulau pesta! Itulah sekilas gambaran saya tentang Gili Trawangan sesaat setelah menginjakan kaki di pulau tersebut. Gili Trawangan adalah salah satu dari 3 gugusan Pulau Gili yang terletak di utara Pulau Lombok dan berbatasan langsung dengan Pulau Bali, karena letaknya yang tepat berada di Selat Lombok.

Karena kendaraan bermotor dilarang berada di Gili Trawangan, maka untuk menjangkau hotel kami yang berada di belahan lain pulau, kami pun harus menggunakan sebuah kendaraan tradisional yang ditarik oleh seekor kuda yang disebut Cidomo yang bertarif Rp 75.000. Cidomo sebenarnya serupa dengan jenis kendaaraan tradisional khas Yogyakarta, yaitu delman atau andong.

Cidomo yang kami tumpangi berderap menyusuri jalanan Gili Trawangan membelah teriknya matahari yang menyengat di siang itu. Sejumlah hotel, kafe dan bar tampak berjejer di sepanjang jalan yang kami lewati. Hingar bingar musik dari sejumlah bar berpadu dengan pengunjung yang didominasi turis asing seakan menandai kalau pulau indah ini tak pernah sepi dari pesta. Bali-nya Lombok, demikian salah satu sebutan untuk Gili Trawangan.

Panorama Pantai Gili Trawangan


Namun bagi Anda yang menyukai suasana yang lebih tenang, Gili Meno dan Gili Air lebih direkomendasikan untuk dikunjungi. Gili Meno dan Gili Air menawarkan destinasi wisata pantai yang tidak kalah mengagumkan. Suasana yang tenang dan pantai yang indah menjadikan wilayah ini sangat cocok sebagai destinasi bagi pasangan yang hendak berbulan madu. 

Selain panorama pantainya yang mempesona, Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air juga memiliki panorama alam bawah laut yang spektakuler. Karenanya jika Anda berkunjung ke Gili Trawangan, sempatkan diri Anda untuk menyelami eksotika alam bawah lautnya. Scuba diving dan snorkeling bisa menjadi pilihan untuk dapat menikmati keindahaan coral yang mempesona, beragam ikan nan cantik dan penyu raksasa yang unik. Jadi tunggu apalagi? Ayo berwisata ke Pulau Lombok dan jelajahi pesona keindahan alamnya! (Eti)


Senin, 11 Mei 2015

Sawarna, Surga Tersembunyi Di Selatan Jawa

 

Kilauan emas semburat senja di ufuk barat tampak menyapu hamparan permadani biru di sore itu. Nun jauh di batas cakrawala tampak sejumlah surfer saling berlomba menaklukan keangkuhan gulungan ombak yang membuncah. Sementara sebagian orang lainnya memilih duduk bersantai di atas lembutnya pasir putih sambil menikmati keindahan alam yang tersembunyi di selatan Jawa, Pantai Sawarna. 



Pantai Sawarna merupakan sekumpulan pantai eksotis dengan panjang pantai mencapai 65 km. Letaknya berada di Desa Sawarna Kecamatan Bayah Kabupaten Lebak Propinsi Banten. Destinasi wisata pantai ini mulai dikenal pecinta wisata khususnya dari kalangan menengah ke bawah sejak beberapa tahun terakhir. 

Keindahan pantainya yang unik dengan hamparan pasir putih berpadu dengan karang berpagar hijaunya perbukitan nan asri menjadi salah satu daya tarik wilayah ini untuk dikunjungi. Sejumlah destinasi wisata eksotik siap memanjakan para wisatawan dengan suguhan panorama yang memikat, diantaranya Pantai Ciantir, Pantai Tanjung Layar, Karang Teraje, Goa Lalay dan Goa Langir serta Goa Seribu Candi.

Pantai Ciantir

Pantai Ciantir menyuguhkan panorama pantai dengan hamparan pasir putih nan lembut yang berpadu dengan hijaunya perbukitan. Besarnya ombak ternyata tidak menyurutkan minat para wisatawan untuk menikmati segarnya air laut dengan berenang di tepian pantai yang landai.

Pantai Ciantir Sawarna
Pantai Tanjung Layar

Pantai Tanjung Layar menyajikan dua karang besar yang berhimpitan seperti layar kapal sebagai background dengan hiasan karang-karang cadas dan datar laksana lantai sebuah kapal. Pantai ini merupakan ikon dari Pantai Sawarna. Karena itulah tidak lengkap rasanya jika berlibur ke Pantai Sawarna tanpa mengunjungi pantai unik ini.

Karang Teraje

Bagi wisatawan yang ingin menyaksikan panorama sunset yang spektakuler, maka pilihan yang tepat adalah dengan mengunjung Karang Teraje. Di lokasi ini para wisatawan akan dimanjakan dengan keelokan panorama sunset yang eksotis dari atas gugusan karang yang menjulang di sepanjang pantai.

Pantai Sawarna
Goa Lalay

Goa Lalay terletak di kaki Bukit Pasir Tangkil, yang berada di kawasan Kampung Cipanas di Desa wisata Sawarna. Goa ini dinamakan Lalay atau kelelawar dalam Bahasa Sunda, dikarenakan dahulunya goa tersebut merupakan sarang dari ribuan kelelawar.

Untuk masuk ke dalam goa, pengunjung diharuskan untuk selalu berhati-hati. Pasalnya meski memiliki pintu masuk yang cukup lebar namun bagian atapnya lumayan rendah. Sementara didalam goa terdapat aliran sungai kecil yang sedikit licin dan berlumpur.

Goa Lalay diperkirakan memiliki panjang lebih dari 2 kilometer. Namun karena jalur goa yang semakin menyempit, maka para pengunjung hanya diizinkan untuk mengkesplorasi hingga di kedalaman 400 meter saja.

Goa Langir

Pantai Goa Langir berada sekitar 2 km dari pusat keramaian desa wisata Sawarna. Lokasinya yang  berada di cekungan tebing dan tersembunyi cukup sulit untuk ditemukan tanpa bantuan local guide.

Jalanan menuju goa Langir sedikit menanjak dengan bebatuan dan kerikil di atasnya. Namun setelah tiba di depan mulut goa, ternyata perjuangan masih belum usai. Pasalnya wisatawan akan dipaksa untuk memasuki pintu goa yang lumayan kecil dengan jalan masuk yang menurun.

Perjuangan nan melelahkan ke dalam Goa Langir akhirnya terbayar lunas begitu kita tiba di dalam goa. Sebab meski pintu masuk goa kecil, namun ruangan didalam goa lumayan besar dengan panorama yang mengagumkan.

Goa Seribu Candi

Goa Seribu Candi memberikan hadiah panorama keindahan stalagmit dan stalagtit yang menjulang menyerupai candi-candi kecil di dalamnya. Tidak heran bila kemudian goa ini dinamakan sebagai Goa Seribu Candi. (Eti)

Jumat, 28 November 2014

Wisata Murah Di Jakarta

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) beberapa waktu lalu yang berimbas dengan menjulangnya berbagai komoditas harga memaksa masyarakat untuk menghitung ulang seluruh biaya hidupnya.


Salah satu kebutuhan yang ditinjau ulang pengeluarannya adalah budget untuk berwisata. Namun meski harus ditinjau ulang, bukan berarti kita tidak bisa menikmati sensasi liburan yang menyenangkan sama sekali. Pasalnya di sekitar wilayah Jakarta masih memiliki sejumlah destinasi wisata dengan budget yang minimal. 

Beberapa diantara destinasi wisata murah tersebut adalah Monumen Nasional (Monas), Kebun Binatang Ragunan, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Taman Impian Jaya Ancol, Kota Tua dan Danau Sunter.

Monumen Nasional (Monas)

Monumen Nasional atau yang populer disingkat dengan Monas atau Tugu Monas merupakan monumen peringatan setinggi 132 meter (433 kaki). Monumen ini mulai dibangun pada tanggal 17 Agustus 1961 atas perintah presiden pertama Indonesia, Sukarno dan mulai dibuka untuk umum pada tanggal 12 Juli 1975. Tugu ini dimahkotai lidah api yang dilapisi lembaran emas yang melambangkan semangat perjuangan yang menyala-nyala.

Monumen Nasional terletak tepat di tengah Lapangan Medan Merdeka, Jakarta Pusat. Monumen dan museum ini dibuka setiap hari mulai jam 8 hingga 3 sore Wib. Pada hari Senin pekan terakhir setiap bulannya ditutup untuk umum.

Pada halaman luar mengelilingi monumen, pada tiap sudutnya terdapat relief timbul yang menggambarkan sejarah Indonesia. Relief ini bermula di sudut timur laut dengan mengabadikan kejayaan Nusantara pada masa lampau. Relief ini berlanjut secara kronologis searah jarum jam menuju sudut tenggara, barat daya, dan barat laut.

Di bagian dasar monumen pada kedalaman 3 meter di bawah permukaan tanah, terdapat Museum Sejarah Nasional Indonesia. Ruang besar museum sejarah perjuangan nasional dengan ukuran luas 80 x 80 meter, dapat menampung pengunjung sekitar 500 orang.

Sebuah elevator (lift) pada pintu sisi selatan akan membawa pengunjung menuju pelataran puncak berukuran 11 x 11 meter di ketinggian 115 meter dari permukaan tanah. Lift ini berkapasitas 11 orang sekali angkut. Pelataran puncak ini dapat menampung sekitar 50 orang, serta terdapat teropong untuk melihat panorama Jakarta lebih dekat.

Di puncak Monumen Nasional terdapat cawan yang menopang nyala lampu perunggu yang beratnya mencapai 14,5 ton dan dilapisi emas 35 Kilogram. Lidah api atau obor ini berukuran tinggi 14 meter dan berdiameter 6 meter terdiri dari 77 bagian yang disatukan. Lidah api ini sebagai simbol semangat perjuangan rakyat Indonesia yang ingin meraih kemerdekaan.

Harga tiket masuk menuju Cawan Tugu Monas adalah Rp 5.000 untuk dewasa, dan untuk ke puncak Tugu Monas sebesar Rp 10 ribu. Harga tiket untuk mahasiswa sebesar Rp 3.000 untuk ke cawan, dan Rp 5.000 untuk menuju puncak Monas. Sedangkan anak-anak hanya membayar Rp 2.000, baik untuk ke cawan maupun ke puncak Monas.

Kebun Binatang Ragunan

Kebun Binatang Ragunan terletak di daerah Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Indonesia. Kebun binatang ini didirikan pada tahun 1864 dengan luas mencapai 140 hektar. Kebun Binatang Ragunan memiliki berbagai koleksi yang terdiri dari 295 spesies dan 4040 spesimen.

Kebun Binatang Ragunan sangat mudah dicapai dengan transportasi umum seperti angkutan kota, bus ataupun bus Transjakarta karena terletak tepat di sebelah Halte Busway Ragunan.

Tarif masuk ke lokasi wisata ini hanya Rp 4.000 untuk dewasa dan Rp 3.000. Sedangkan tarif masuk ke Pusat Primata Schmutzer sebesar Rp 6.000 untuk tiga tahun ke atas di hari biasa, dan Rp 7.500 di akhir pekan atau libur nasional. 

Selain menikmati beragam jenis hewan dan tumbuhan, para pengunjung juga dapat menikmati sejumlah atraksi dan hiburan seperti kuda tunggang, gajah tunggang, onta tunggang dan taman wisata anak. Untuk dapat menikmati atraksi-atraksi tersebut, pengunjung cukup merogoh kantong antara Rp 2.500 hingga Rp 7.500 saja. 

Kebun Binatang Ragunan
Taman Mini Indonesia Indah (TMII)

Taman Mini Indonesia Indah (TMII) merupakan suatu destinasi wisata bertema budaya Indonesia yang merangkum beragam kebudayaan Bangsa Indonesia dari 33 provinsi Indonesia (pada tahun 1975) yang ditampilkan dalam anjungan daerah berarsitektur  tradisional, serta menampilkan aneka busana, tarian dan tradisi daerah.

Di dalam TMII terdapat sebuah danau dengan miniatur kepulauan Indonesia di bagian tengahnya. Para pengunjung dapat menyaksikan miniature tersebut dari atas kereta gantung (gondola) yang dapat dinaiki dengan harga  sekitar Rp 30.000.

Selain danau, dalam TMII juga terdapat berbagai museum, Teater IMAX Keong Mas, Teater Tanah Airku, Dunia Air Tawar dan Serangga, SnowBay Water Park serta berbagai sarana rekreasi lainnya.

Tiket masuk ke Taman Mini Indonesia Indah sekitar Rp 10.000 untuk usia 3 tahun ke atas. Sedangkan untuk harga tiket masuk ke museum dikenakan tarif antara Rp 2.500 hingga Rp 15.000. 

Taman Mini Indonesia Indah (TMII)

Taman Impian Jaya Ancol

Taman Impian Jaya Ancol merupakan salah satu destinasi tujuan wisata di Jakarta Utara yang terdiri dari wisata taman dan wisata pantai. Selain itu destinasi ini juga menawarkan beragam wahana yang dapat dinikmati dari semua kalangan usia.

Bagi yang ingin menguji adrenalin, dapat mencoba berbagai wahana seru di Dunia Fantasy (Dufan). Sedangkan bagi para pecinta seni bisa mengunjungi kawasan Pasar Seni Ancol.

Selain itu Ancol juga menyuguhkan kawasan hijau dengan nilai edukasi dan petualangan seru melalui Ocean Ecopark. Para pengunjung juga dapat melihat lebih dekat kelucuan lumba-lumba di unit oceanarium terbesar dengan mengunjungi Ocean Dream Samudra.

Atlantis Water Adventure (AWA) adalah theme park kedua yang dikembangkan dan merupakan hasil revitalisasi dari Gelanggang Renang Ancol. Sementara Water Adventure (AWA) luas 5 hektar siap menyajikan petualangan seru melalui wisata air dengan 8 kolam utama yaitu: Poseidon, Antila, Plaza Atlas, Aquarius, Octopus, Atlantean, dan Kiddy Pool.

Harga tiket masuk ke dalam  Taman Impian Jaya Ancol sebesar Rp 25.000. Sedangkan harga masuk untuk Dunia Fantasy (Dufan) adalah Rp 180.000 untuk Senin – Jumat, sedangkan Sabtu – Minggu dan hari libur nasional sebesar Rp 250.000. Tiket masuk untuk Wahana Ocean Dream Samudra dan Atlantis Water Adventure adalah Rp 100.000 untuk Senin – Jumat,  dan Rp 150.000 untuk Hari Sabtu/Minggu/Libur. 

Taman Wisata Kota Tua

Salah satu wisata murah di Jakarta lainnya adalah Kota Tua. Kawasan ini dulunya dijuli sebagai "Permata Asia" dan "Ratu dari Timur" oleh pelayar Eropa karena dianggap sebagai pusat perdagangan untuk benua Asia. Selain itu Kota Tua juga dikenal dengan sebutan Batavia Lama.

Di kawasan ini kita dapat mengunjungi berbagai tempat bersejarah yang unik dan masih terawat dengan baik seperti Museum Fatahillah, Museum Wayang, Museum Seni Rupa dan Keramik hingga ke Menara Syahbandar. Di Menara Syahbandar para pengunjung dapat menyakiskan atsmosfer Kota Jakarta dan sekitarnya dari atas ketinggian 18 meter.

Selain museum, kita juga dapat menikmati berbagai atraksi di alun-alun Kota Tua seperti manusia patung yang dapat diajak berfoto bersama, pertunjukan Lenong dan Ondel-ondel yang merupakan kesenian khas Jakarta. Bagi yang ingin menikmati serunya berkeliling Kota Toa dengan sepeda ontel, terdapat tempat penyewaan sepeda ontel yang dapat kita sewa dengan harga Rp 5.000 selama 30 menit.

Selain mengunjungi lokasi bersejarah, Kota Tua juga merupakan destinasi wisata kuliner yang cukup dikenal oleh masyarakat Jakarta. Sejumlah pedagang kaki lima yang berjejer di sekitaran alun-alun menawarkan beragam menu khas Kota Jakarta seperti kerak telor dan ketoprak.

Kawasan Wisata Kota Tua ini dapat dijangkau dengan mudah dari berbagai lokasi. Selain menggunakan kendaraan pribadi, wisatawan juga dapat menggunakan jasa transportasi umum seperti bus Trans Jakarta, menggunakan Mikrolet dan Kopaja.(Eti)


Kamis, 27 November 2014

Menjelajahi Jalan Jaksa, Jakarta

Hingar bingar malam itu semakin memanas dengan hentakan musik yang membahana dari sejumlah kafe di pinggir jalan. Sementara turis asing tampak berlalu lalang berbaur dengan warga lokal disela hiruk pikuknya kendaraan. Itulah sekilas suasana di Jalan Jaksa, surga backpacker ibu kota.


Terik matahari yang menyengat dan kepulan asap knalpot dari sejumlah kendaraan yang berlalu lalang tampak menyelimuti Jalan Jaksa siang itu. Di pinggir jalanan yang berdebu terlihat seorang penjual buah dengan gerobak tuanya duduk termangu seolah menanti sentuhan rezeki dari para pembeli. Sementara tidak jauh dari tempatnya berada, sejumlah turis asing tampak asyik menikmati sajian makan siang yang sedikit terlambat di sebuah rumah makan.

Sekilas suasana di Jalan Jaksa siang itu terlihat sangat tenang cenderung sepi. Namun kondisi itu akan berubah seratus delapan puluh derajat kala malam menjelang. 

Sejumlah bar dengan hentakan musik membahana berbaur dengan hingar bingar para pengunjung yang didominasi para turis asing. Situasi tersebut mengingatkan akan suasana di Pulau Dewata yang tampak ramai dengan kehadiran turis-turis asingnya. Tidak heran bila kemudian Jalan Jaksa disebut juga sebagai Legian-nya Jakarta.

Untuk para pecinta backpacker, nama Jalan Jaksa sudah tidak asing lagi di telinga. Jalan yang berada di kawasan Menteng, Jakarta Pusat ini memang terkenal sebagai lokasi wisata murah bagi para pelancong dengan budget yang pas-pasan.

Sejumlah tempat penginapan ramah kantong berjejer di sepanjang Jalan Jaksa siap menyambut kedatangan para wisatawan baik dari dalam negeri maupun manca negara.

Beragam penginapan dari mulai setingkat hostel dengan harga Rp 80.000 hingga Rp 200.000 sampai dengan hotel berbintang 3 dengan kisaran budget Rp 300.000 hingga Rp 600.000 pun dapat dengan mudah ditemui di kawasan tersebut.

Bagi yang ingin mendapatkan hotel dengan fasilitas yang lebih baik dapat mencari di sekitar Jalan Wahid Hasyim yang letaknya hanya beberapa meter dari Jalan Jaksa. Dari mulai hotel bintang 3 hingga hotel berbintang 5 bisa ditemukan di sepanjang jalan yang nyaris tak pernah sepi itu.

Selain tempat penginapan, tempat makan murah nan lezat juga dapat ditemukan di sekitar Jalan Jaksa. Untuk para pecinta kuliner lokal seperti pecel lele, pecel ayam, soto dan aneka hidangan lezat lainnya, dapat menemukannya di sepanjang Jalan Jaksa. Namun untuk pecel lele dengan rasa terbaik dapat dicoba di sebuah warung tenda yang lokasinya berada tepat di seberang soto ceker.

Bagi yang menyukai masakan Asia, makanan ala Malaysia juga dapat dijumpai di sana. Harga yang terjangkau dan rasa yang menggugah selera membuat tempat tersebut nyaris tak pernah sepi pengunjung. 

Untuk yang ingin membeli kebutuhan lainnya, sejumlah mini market yang beroperasi 24 jam non stop dapat dengan mudah di jumpai di jalan yang memiliki panjang sekitar 400 meter itu.

Selain sebagai tempat wisata berbudget, Jalan Jaksa juga menjadi lokasi tujuan wisata budaya di wilayah Jakarta melalui ajang Festival Jalan Jaksa.

Festival Jalan Jaksa diadakan untuk pertama kalinya di ibukota pada tanggal 5 - 7 Agustus 1994. Festival yang diadakan di sepanjang Jalan Jaksa itu bertujuan untuk mengangkat dan melestarikan budaya penduduk asli Jakarta, yaitu masyarakat Betawi.

Berbagai ragam kesenian asli Betawi seperti ondel ondel turut memeriahkan Festival Jalan Jaksa. Selain itu penampilan sejumlah band dan bazar yang menjual berbagai pernak pernik khas Betawi juga turut menjadi bagian dari festival tahunan tersebut.

Lokasi Jalan Jaksa juga sangat strategis. Tempat ini hanya berada sekitar 1 km dari kawasan wisata Monumen Nasional (Monas) dan Masjid Istiqlal sehingga dapat dijangkau cukup dengan berjalan kaki.

Selain Monas, lokasi tujuan wisata lainnya yang dapat dijangkau dengan mudah dari kawasan 'Kampung Backpacker' ini adalah Taman dan Situ Menteng, kawasan perdagangan Tanah Abang, dan kawasan Kota Tua.

Suasana Jl. Jaksa di malam hari



Untuk menjangkau Jalan Jaksa sangatlah mudah. Pasalnya jalan tersebut sangat dekat dengan Stasiun Gondangdia dan Stasiun Gambir serta berada tidak jauh dari kawasan Sudirman dan Thamrin.

Jadi tunggu apa lagi? Berwisata ke Kota Jakarta tidak selalu menguras kantong. Jika bugdet pas-pasan, cobalah berkunjung ke Jalan Jaksa. (Eti)